Newsflash

Catatan Kuliah
Google Ads
Google Search
Login Form
| Keilmuan Getaran |
|
|
|
| Written by sarwono | ||||||
| Saturday, 04 April 2009 06:08 | ||||||
|
Getaran
Getaran merupakan ilmu Merpati Putih yang sangat aneh tapi bener-bener nyata, ilmu ini dapat membaca tulisan dengan mata tertutup, bahkan dapat mencari benda-benda yang hilang, menebak warna, mengendari motor atau mobil. Orang yang bisa itu semua bukan hanya orang yang bisa melihat seperti manusia pada biasanya tetapi orang yang buta sejak lahir jika bisa menguasai getaran maka ia pun akan bisa melakukan seperti di atas. Ini tidak menggunakan jin atau sejenisnya melainkan hanya didapat dengan pernapasan dan atas ijin Allah. Salah satu kelebihan Merpati Putih dibandingkan perguruan lain adalah pada getaran. Dapat dikatakan bahwa saat ini perguruan pencak silat di Indonesia yang mempelajari getaran secara murni dan ilmiah baru Merpati Putih. Di bawah ini terdapat percakapan tentang masalah getaran yang dikutip dari sebuah Yahoo Messanger merpatiputih@yahoogroups, isinya sebagai berikut : Apa Itu Getaran ???Someone in UNHAS wrote: Apakah ada yang bisa menjelaskan kepada saya mengenai pembahasan tentang getaran ??? Dan bagaimana seseorang dapat berjalan serta mendeteksi benda dengan mata tertutup, apakah benar-benar bisa melihat seperti fungsi mata sebenarnya ?? Salam Perguruan. Salam Perguruan mas.... Getaran????.... hmmm nice to discuss it. Kalo boleh saya nimbrung mas Andri UNHAS... ya sebatas pengetahuan saya juga mas mengenai getaran ini... Kalo kita melihat getaran ini dapat dilihat dari dua sisi mas dan mungkin kedua hal tersebut masih menjadi pencarian kita sebagai insan merpati putih.... 1. Pendekatan Ilmiah.... Setiap benda atau bahkan tubuh kita sendiri mempunyai frekuensi yang berbeda-beda yang akhirnya terpancar melalui gelombang. Hal tersebut yang kita latih dimana kita mencoba mendeteksi frekuensi lain diluar tubuh kita memlaui gelombang yang kita pancarkan dari tubuh kita. Sehingga ada istilah tubuh kita jadikan sebagai receiver dan objek yang kita deteksi sebagai transmiter... Hal tersebut yang membuat kita dapat mendeteksi gelombang yang kita tangkap dan dibaca oleh otak kecil kita untuk mendefiniskan objek yang kita deteksi tersebut. Contoh hal kecil yang mungkin kita temukan di kehidupan sehari � hari jika kita melihat dengan mata seseorang memakan buah mangga muda secara otomatis gelombang otak kita bekerja dan mengirim sebuah data ke otak kecil kita bahwa mangga tersebut sangatlah masam sehingga secara otomatis pula di dalam kerongkongan kita akan keluar air liur yang seakan akan kita juga merasakan masamnya mangga muda tersebut. ( Hal tersebut karena kita sudah pernah merasakan rasa mangga muda tersebut dan secara tidak sadar terekam di otak kecil kita. ) Contoh lainnya kita dapat mendeteksi frekuensi gelombang otak dimasa lampau.... karena kita mencoba menyamakan frekuensi gelombang otak kita dengan frekuensi gelombang yang kita inginkan. Sehingga pada tahap tertentu kita dapat mendefiniskan hal tersebut yang dibaca oleh otak kecil kita. Ada hal yang menarik yang kita tilik dari teori fisika yang pernah ada... " energi tidak bisa diciptakan ataupun dimusnahkan".... saya lupa teori siapa ini tapi saya pernah membaca dan mempelajari sewaktu di SMA dulu. Frekuensi sekecil apapun dan sesama apaun benda tersebut pasti berbeda.... sebagai contoh orang kembar..... Apakah 100% orang kembar tersebut sama dalam semua hal?.... DNA misalnya?.... ataupun apa... mungkin hanya dapat dikatakan 90% sama. Hal tersebut yang dapat kita baca melalui gelombang otak yang kita baca. Sehingga apabila kita melihat ilmu getaran ini melalui pendekatan ilmiah .... "mungkin" saya dapat katakan kita hanya bisa melakukan dengan tahap merasakan getaran tersebut. Dan untuk penyandang tuna netra dapat saya katakan mereka hanya dapat melakukan sebatas merasakan seperti apa yang telah mereka rekam di otak kecil mereka ketika latihan yang mereka lakukan. Sebagai contoh...mereka mendeteksi warna merah..... bukan mereka melihat warna merah seperti halnya kita yang normal dalam penglihatan. Mereka lebih bersifat merasakan frekuensi yang dipancarkan oleh warna merah tersebut. Dan "frekuensi" tersebut mereka hafal dan direkam di otak kecil. 2. Pendekatan Spiritual Hal tersebut saya dapat katakan benar adanya.... dimana beberapa atlet kita ketika berdiskusi dengan saya... mereka menyatakan bahwa seperti melihat dengan mata fisik adanya. Hal tersebut didapat karena pendekatan spiritual sang atlet lebih cocok dibandingkan dengan pendekatan ilmiah yang telah kita paparkan. Hal tersebut juga mungkin terjadi karena faktor bakat dari sang atlet. Ada istilah jawa " roso sakjroning roso " dimana rasa lebih di ke depankan ketika melakukan latihan getaran tersebut. Sehingga "rasa / mata batin " lah yang lebih banyak berperan dibandingkan dengan logika. Sehingga dapat saya simpulkan... kedua pendekatan tersebut dapat saja dipakai tetapi tidak untuk diperbandingkan karena andaikata diperbandingkan hasilnya akan mentah. Contoh kasus yang sering saya dapatkan hal tersebut di debatakan dengan sisi agama... hasilnya tentu akan kita lihat banyaknya tanggapan yang berbeda... misalnya "Adakah kekuatan lain / Jin" dibalik kekuatan getaran tersebut. Yang akhirnya memang banyak menimbulkan persepsi yang salah. Ya memang juga mas ada istilah "Membangun kota Roma tidak hanya dalam satu hari".... Ya mungkin tanggung jawab kita untuk memaparkan dan meneruskan hasil pencarian dari Nenek moyang dan Guru - guru kita. Sekali lagi mohon maaf andaikata ada pemaparan saya yang kurang berkenan dan kurang jelas. Wassalam, Hemi Danardono Write : Dari yang saya dengar dan pelajari termasuk dari penjelasan mas Hemi ini, bahwa untuk mendeteksi dengan getaran kita perlu "menghafal" frekuensi / gelombang dari benda/lingkungan tersebut. Untuk benda, termasuk di dalamnya warna dan huruf. Sementara utk lingkungan, karena itu lah yang mungkin dilakukan senior-senior kita saat demo getaran mengendarai mobil/motor. Tidak hanya sekedar menghafalkan rute jalannya saja. Mohon dikoreksi kalau salah. Salam perguruan. WAHHH... mas Danar jeli juga ya.... that's gud... so we can brain washing mas... to discuss it. Mas Danar : Dari yang saya dengar dan pelajari termasuk dari penjelasan mas Hemi ini, bahwa untuk mendeteksi dengan getaran kita perlu "menghafal" frekuensi / gelombang dari benda/lingkungan tersebut. Saya akan coba jelaskan sepanjang pengetahuan saya ya mas... Tehnik menghafal ( yang mungkin kita dapat katakan ) adalah tehnik dasar dalam pelatihan dasar Getaran. Seorang atlit getaran tingkat dasar dituntut untuk dapat menghafal setiap frekuensi yang dipancarakan oleh setiap benda. Misalnya warna, huruf atau benda apapun. Dapat kita analogikan seperti sewaktu kita duduk di bangku SD, kita diperkenalkan dengan huruf A, B, C, dst dan diminta dihafalkan oleh guru kita. Karena merupakan tuntutan dan kebiasaan yang dilakukan maka hal tersebut akan terekam oleh otak kecil kita dan termemori. Sehingga dengan terekamnya huruf2 tersebut maka jikalau kita menemukan suatu huruf A... maka sepersekian detik otak kecil kita akan memberikan informasi kepada kita bahwa huruf yang kita lihat tersebut adalah huruf A. Demikian juga dengan warna. Begitu juga dengan atlet tunanetra... mereka mengenal warna merah dsb bukan seperti warna merah yang kita lihat dengan mata kita yang dapat melihat.. melainkan mereka ( tuna netra ) mempunyai definisi lain mengenai warna merah tersebut karena mereka tidak pernah melihat warna merah seperti kita yang normal terutama yang tuna netra sejak lahir.
Mas Danar : Sementara utk lingkungan, karena itu lah yang mungkin dilakukan senior-senior kita saat demo getaran mengendarai mobil/motor. Tidak hanya sekedar menghafalkan rute jalannya saja. Mohon dikoreksi kalau salah. Nah kalo sudah bersentuhan dengan getaran mengendarai mobil jelas sudah lain ceritanya mas. Ini adalah latihan lanjutan getaran setelah sang atlet memahami dan mampu melakukan tehnik latihan dasar getaran. Sewaktu sang atlet dituntut untuk mampu mengedarai mobil / motor sang atlit harus sudah mampu melatih getaran dengan halang rintang. Dasar prinsip pemikirannya sebagai berikut mas.... Kita memfungsikan diri kita sebagai 2 fungsi getaran sekaligus yakni sebagai transmiter dan sebagai receiver.... makanya terkadang ada pelatih yang meminta sang atlit " pancarkan getaran "... hal tersebut lah yang kita sebut sebagai transmiter / pendeteksian... kita memancarakan getaran ke lingkungan sekitar kita dan secara otomatis juga maka kita akan menerima informasi / feed back dari getaran yang telah kita pancarkan. Dan hal ini akan di terima oleh gelambang otak kita dan akan memberikan informasi kepada diri kita. Mungkin ini secuil prinsip dasar getaran untuk mengerai mobil / motor tersebut mas. Tapi yang terpenting ya si atlit harus bisa naik mobil atau naik motor mas heheheheheeee..... kalo itu belum bisa (naik mobil / motornya )dan terjadi apa2 diluar tanggung jawab editor loh mas hehehe. Kalaupun saya disuruh menghafal rute jalan dan disuruh jalan dengan mata tertutup ya mendingan tidur saya mas hehehehehe, wong di jakarta saja saya dengan mata terbuka masih sering nyasar kemana2. Mas Danar : Ini menarik, apakah ini berarti dengan getaran kita bisa "membaca" pikiran orang lain dan mengetahui sesuatu yang dialami orang lain selama "memory" itu masih tersimpan di otak kecilnya ? Yep, that's correct. Contoh kecil mas.... apa yang bisa mengikat hubungan jarak jauh antara ibu dan anak. Misalnya anak tersebut ada apa - apa, maka yang sering orang katakan batin ibu akan merasakan juga. Jelas disini gelombang otak si anak denga ibu sangat terikat kuat sehingga frekwensi sejauh apapun akan terbaca. Ada istilah fisika juga kalo tidak salah " Energi / frekuensi itu menembus batas ruang dan waktu ". Contoh kecil lainnya.... Saya pernah mendapat penjelasan langsung dari Alm Mas Budi. Beliau menceritakan... Di suatu pemakaman orang asing.... ketika ada yang meninggal diantar oleh sanak saudaranya. Dan ketika hampir selesai upacara pemakaman tiba2 ada salah satu pengantar kerasukan / kesurupan tiba2 orang tersebut bisa berbahasa belanda. Padahal yang dimakamkan itu orang jawa. Sidik punya selidik teryata makam tersebut bekas wilayah dudukan belanda jaman dulu. Hal tersebut bisa saja terjadi ketika frekuensi si pengantar yang kerasukan tersebut sama dengan frekuensi yang tertinggal oleh orang Belanda tersebut ( padahal orang Belanda tersebut tidak dimakamkan di area ini mas ). Nah ini mungkin sedikit cerita tapi jangan diperdebatkan dengan agama ya mas. Kita melihat dari sisi ilmiahnya.
Ok mas... nice to discuss with you. Kita saling tuker pikiran ya mas. Jangan sungkan2. Mas Danar ini dari kelompok latihan mana ya kalo boleh saya tahu mas. Wassalam, Hemi >Yep, that's correct. Contoh kecil mas.... apa yang bisa mengikat hubungan jarak jauh antara ibu dan anak. Misalnya anak tersebut ada apa - apa, maka yang sering orang katakan batin ibu akan merasakan juga. Jelas disini gelombang otak si anak denga ibu sangat terikat kuat sehingga frekwensi sejauh apapun akan terbaca. Ada istilah fisika juga kalo tidak salah " Energi / frekuensi itu menembus batas ruang dan waktu ". Saya masih terkesima dengan penjelasan bagian ini mas Hemi. Pantes dulu koq kayaknya senior-senior bisa "mbaca" pikiran nakal saya yang males latihan, hahaha. Rasanya kemampuan ini, satu step lebih susah dari aplikasi getaran deteksi benda/lingkungan. Kalau benar-benar mengetahuinya, karena memasuki dimensi waktu juga. Waaaah mantap. Saya koq ngerasa ilmu ini jadi dekat dengan aplikasi "inti bulan" dan "inti bintang" ya. Wassalam, Danardono Pada tahun 1995, seorang anggota PPS Betako Merpati Putih cabang Jakarta Selatan, Mas Eddie Pasar mendapat piagam penghargaan Rekor dari Musium Rekor Indonesia (MURI) karena mendemonstasikan menyetir mobil terjauh dari Bogor ke Jakarta dengan mata tertutup.
Only registered users can write comments!
Powered by !JoomlaComment 3.20
3.20 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
||||||
| Last Updated on Tuesday, 07 April 2009 07:45 |







